Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan angka kesakitan di Indonesia ternyata masih cukup tinggi dan menantang bagi sektor kesehatan kita. Hal inilah yang membuat bisnis di sektor kesehatan masih menjadi kebutuhan masyarakat karena dibutuhkan kapan dan di mana saja.
Lalu, apakah ini saatnya Anda sebagai pebisnis terjun ke sektor kesehatan yang digadang-gadang bisa memberikan keuntungan? Kalau Anda tertarik dengan bisnis kesehatan, seperti apotek, liat penjelasan berikut ini.
Pada tahun 2025, angka kesakitan di Indonesia tercatat masih mencapai 12,66%. Secara sederhana, angka ini bermakna bahwa sekitar 13 dari setiap 100 penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari dalam satu tahun terakhir.
Tingginya angka kesakitan ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ini adalah potret nyata mengenai besarnya kebutuhan masyarakat akan akses obat-obatan yang aman serta layanan kesehatan yang terpercaya.
Ketika angka kesakitan meningkat, permintaan akan layanan kefarmasian yang sigap dan dekat dengan pemukiman pun menjadi tidak terelakkan.
Menanggapi angka kesakitan di Indonesia ini, apotek memegang peranan sebagai titik akses paling cepat bagi masyarakat. Berbeda dengan rumah sakit yang sering kali memerlukan administrasi panjang atau lokasi yang jauh dari pusat pemukiman, apotek biasanya berada tepat di jantung aktivitas warga.
Bagi masyarakat yang mengalami gejala kesehatan ringan seperti demam, flu, atau gangguan pencernaan, apotek adalah tempat pertama yang mereka tuju untuk mendapatkan swamedikasi atau obat.
Keberadaan apotek yang memadai secara jumlah dan kualitas sangat krusial untuk mencegah kondisi kesehatan penduduk yang sakit agar tidak semakin memburuk. Namun, realita di lapangan menunjukkan adanya sebuah kesenjangan yang kontras.
Masih banyak wilayah di Indonesia, terutama di pelosok maupun daerah berkembang, yang belum tersentuh fasilitas apotek secara optimal. Tantangannya bukan hanya pada jumlah gerai, melainkan pada jam operasional. Sangat sedikit apotek yang mampu memberikan layanan penuh selama 24 jam nonstop.
Padahal, sakit tidak mengenal waktu; kebutuhan akan obat sering kali muncul di saat-saat kritis seperti tengah malam atau menjelang subuh.
Jika angka kesakitan di Indonesia cukup tinggi dan banyak peluang bisnisnya, lalu mengapa tidak semua orang bisa dengan mudah membuka apotek untuk menutup celah kebutuhan tersebut?
Jawabannya: membangun bisnis farmasi tidaklah sederhana. Ada banyak baris persyaratan dan risiko yang harus dikelola, antara lain:
Melihat tingginya kebutuhan masyarakat (angka kesakitan di Indonesia 12,66%) dan besarnya tantangan operasional di atas, sistem waralaba atau franchise Apotek K-24 hadir sebagai solusi strategis.
Apotek K-24 bukan pemain baru; selama lebih dari dua dekade, brand ini telah membuktikan eksistensinya sebagai jaringan apotek waralaba terbesar di Indonesia. Bergabung dengan franchise Apotek K-24 memberikan keuntungan yang tidak dimiliki oleh apotek mandiri:
Tingginya angka kesakitan penduduk Indonesia tahun 2025 merupakan panggilan bagi para pebisnis dan investor untuk melihat peluang sekaligus misi kemanusiaan. Membuka apotek bukan sekadar mencari profit, melainkan ikut serta memperluas akses kesehatan yang lebih dekat bagi sesama.
Dengan bergabung bersama keluarga besar Apotek K-24, Anda tidak hanya memulai bisnis yang "tahan banting" dan anti-resesi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi untuk menurunkan dampak angka kesakitan nasional.
Jangan biarkan masyarakat di wilayah Anda kesulitan mencari obat di tengah malam. Jadilah pemilik gerai yang selalu ada saat dibutuhkan.
Yuk, ikut memperluas akses kesehatan yang lebih dekat dan terpercaya untuk masyarakat Indonesia.
Segera hubungi hotline Franchise Apotek K-24 di 081212012424 atau akun instagram @franchisek24. Anda juga bisa langsung mengisi formulir pendaftarannya DI SINI.
News
Award
Penghargaan
News
Penghargaan
Penghargaan
Award
News