Apakah Indonesia akan Mengalami Krisis BBM yang Mengkhawatirkan?

Apakah Indonesia akan Mengalami Krisis BBM yang Mengkhawatirkan?

Jun 20, 2022

Baru-baru ini isu krisis energi sedang merebak di berbagai negara, akibat dari adanya perang di Timur Tengah. Kondisi ini tentu sangat mempengaruhi banyak negara karena Selat Hormuz adalah jalur utama minyak mentah dunia. Jika demikian, apakah Indonesia akan merasakan krisis BBM?

Isu mengenai krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) selalu menjadi topik yang sensitif dan memicu kekhawatiran di tengah masyarakat Indonesia. Sebab, Indonesia memiliki ketergantungan yang cukup tinggi pada impor minyak mentah dan hasil olahan bensin.

Apakah Indonesia akan Krisis BBM seperti Negara Lain?

Oleh karena itu, adanya fluktuasi harga minyak dunia serta ketegangan geopolitik sering kali menimbulkan pertanyaan besar: apakah Indonesia akan mengalami krisis BBM seperti di negara lain, yang terjadi karena Iran memiliki kendali siapa saja yang boleh melewati Selat Hormuz.

Krisis BBM di Indonesia ini bisa terjadi bisa saja tidak. Sebab, negara-negara di Asia dinilai akan menanggung dampak paling besar dari krisis energi akibat perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.

Maynier menyebut kawasan Asia sebagai pihak yang paling menderita akibat krisis energi saat ini. Berbicara kepada AFP di Singapura, Selasa (31/3), ia menjelaskan bahwa ketidakcukupan sumber daya domestik membuat negara besar seperti Indonesia, Tiongkok, dan Filipina rentan terhadap tekanan pasokan.

Menurutnya, jika gangguan distribusi energi tidak segera berakhir, hal ini akan memicu krisis energi yang sangat serius di kawasan tersebut.

Meski demikian, Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian baru-baru ini memastikan bahwa stabilitas ekonomi di Indonesia akan tetap terjaga meski dunia sedang bergejolak.

Jadi, Apakah Indonesia akan krisis BBM? Jika yang dimaksud adalah kehabisan stok secara total dalam waktu dekat, jawabannya kemungkinan besar tidak, selama jalur perdagangan internasional tetap terbuka dan finansial negara tetap stabil.

Namun, jika yang dimaksud adalah "krisis harga" atau kerentanan pasokan akibat ketergantungan impor, maka risiko itu akan selalu ada. Ini tentu akan mempengaruhi beberapa sektor di Indonesia, yang mana ada kemungkinan penutupan lahan usaha.

Semua Sektor di Indonesia akan Aman?

Meskipun optimisme pemerintah cukup tinggi, kita tidak bisa menutup mata bahwa tidak semua sektor memiliki tingkat ketahanan yang sama.

Sektor yang sangat bergantung pada logistik dan bahan bakar fosil tentu akan merasakan tekanan margin keuntungan jika harga energi dunia melonjak. Ketidakpastian global memaksa para pelaku usaha untuk lebih selektif dalam memilih instrumen bisnis.

Di tengah situasi ini, para investor justru mulai mengalihkan pandangan mereka. Mereka kini lebih tertarik dengan sektor-sektor yang dianggap tahan krisis (crisis-proof). Apa maksudnya?

Ini adalah jenis bisnis yang jasanya tetap dibutuhkan oleh masyarakat terlepas dari kondisi ekonomi negara sedang lesu, inflasi sedang tinggi, atau bahkan saat isu krisis BBM sedang memuncak.

Sektor Kesehatan Jadi Prioritas Utama

Laporan Indeks Kepercayaan Konsumen secara konsisten menunjukkan fenomena menarik: sektor kesehatan adalah prioritas pengeluaran rumah tangga yang paling stabil. Kesehatan merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa ditunda.

Seseorang mungkin bisa menunda membeli baju baru, menunda liburan, atau mengurangi frekuensi makan di luar saat harga BBM naik, namun mereka tidak akan pernah berkompromi dalam urusan obat-obatan atau layanan kesehatan saat jatuh sakit.

Sektor kesehatan memiliki sifat inelastic demand atau permintaan yang tidak terlalu terpengaruh oleh naik-turunnya harga. Hal inilah yang menjadikan bisnis di bidang kesehatan memiliki resiliensi atau daya tahan yang luar biasa terhadap inflasi maupun gejolak ekonomi global.

Bisnis Apotek, Perpaduan Fungsi Sosial dan Resiliensi Ritel

Salah satu instrumen investasi yang paling menonjol di sektor kesehatan adalah bisnis apotek. Apotek bukan sekadar toko ritel biasa; ia menggabungkan fungsi sosial sebagai penyedia sarana penyembuhan dengan ketangguhan model bisnis ritel modern.

Mengapa bisnis apotek disebut tahan banting?

  • Kebutuhan Utama: Produk yang dijual (obat-obatan dan alat kesehatan) adalah kebutuhan pokok.
  • Resiliensi Inflasi: Meskipun terjadi kenaikan harga bahan baku, permintaan obat tetap konstan.
  • Loyalitas Tinggi: Masyarakat cenderung memilih apotek yang lengkap, asli, dan terpercaya.

Bisnis ini tidak hanya menjanjikan keuntungan secara finansial, tetapi juga memberikan kepuasan secara sosial karena membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.

Mulai Bisnis Apotek Bersama Ahlinya

Jika Anda adalah seorang calon pengusaha yang ingin mengamankan modal di sektor yang tahan terhadap gejolak ekonomi dan krisis energi, memulai bisnis apotek adalah langkah yang sangat strategis.

Namun, membangun apotek dari nol tentu bukan perkara mudah karena banyaknya aturan regulasi farmasi dan manajemen stok yang rumit.

Untuk itulah, kemitraan waralaba atau franchise hadir sebagai solusi. Salah satu pemain utama yang telah terbukti selama lebih dari 20 tahun melewati berbagai krisis (termasuk pandemi dan fluktuasi ekonomi) adalah Apotek K-24.

Apotek K-24 menawarkan sistem manajemen yang sudah matang, dukungan ketersediaan obat yang lengkap, serta nama besar yang sudah dipercaya oleh masyarakat Indonesia. Anda tidak perlu memulai dari nol, karena sistem operasi, pemasaran, hingga perizinan akan didampingi oleh tim ahli.

Ingin memulai bisnis apotek dengan mudah dan aman di tengah ketidakpastian global? Segera hubungi hotline Franchise Apotek K-24 di 081212012424 atau akun instagram @franchisek24. Anda juga bisa langsung mengisi formulir pendaftarannya DI SINI 

Related post
PT K-24 Indonesia
Jl. Magelang, Karangwaru Kidul,
PR 24 Yogyakarta 55241
0274 - 542024, 542025
Hotline Franchise
08-12-12-01-2424
Media Sosial